Untuk sebuah nama, Aku pilih namamu.
Aku akan tetap menetapkan mawar di tamanmu,
Sekalipun durinya kan menancap,
Toh duri diciptakan untuk melindungi sang mawar.
Dan tolong berikan aku satu warna dari pelangimu,
Terserah merah,,kuning,hijau,nila, unggu, jingga atau biru.
Agar aku tetap dirindukan oleh mereka yang menyapaku hari ini.
Terserah merah,,kuning,hijau,nila, unggu, jingga atau biru.
Agar aku tetap dirindukan oleh mereka yang menyapaku hari ini.
Jika langit mengizinkan aku meminjam senyummu untuk sesaat
Maka segala rasa akan ku halau semua kelam.
Aku ingin bertanya , mengapa bunga bulan tak ditanam tapi ditancapkan?
Dan lihat malam tanahku sedih pada dinding langit yang menembak, kecisss...
hujan, hempaskan segala dusta
Sempurna purnama, Riuh angin merona, Itu tanda ada aku.
Matahari merendalah, tumpahkan cahayamu di sepotong jendela, Silaukan puisi ini,Terangi lelahku.
Aku takut senja sekalipun di jingga ada maharani.
Dan bulan, tolong. Aku hanya ingin menyelipkan bintang di sela jari manismu
Sebagai mahar pernikahan mataku dengan kukumu,
dan saksinya adalah rambutku Mahkota yang terurai.
Rindu semusim untukmu, Langit pekat merana di singgasana
Aku masih di bibir pantai
Menyusun batu membentuk perisai untuk para dewata
Aku masih di dermaga menanti perahu kertas yang merindu malam
Aku masih di sini, berkaca di serumpun pagi
Aku masih di bibir pantai
Menyusun batu membentuk perisai untuk para dewata
Aku masih di dermaga menanti perahu kertas yang merindu malam
Aku masih di sini, berkaca di serumpun pagi
Kasih,
Aku masih di muara
Tirai sungai dan batas laut yang menganga
Mana sampanmu? Ku ingin ke tepi. Di sana ombak terlalu dahsyat
Setiap hembusan nafas kulihat ada sebentuk surga.
Hari ini, maha sempurnlah waktu sesaat dengan segala kesederhanaannya
Aku mampu mencerna makna di antara simbol-simbol
Bunga dan kupu-kupu
Ombak dan karang
Romeo dan Juliet
Angin dan pucuk-pucuk daun
Bening embun dan rumput hijau
Burung camar dan rantingnya.
Semayamkan aku di peraduan ,
Taburi dengan do'a
ku yakin yakin kelak tumbuh menjadi kelopak bunga melati
Sari di setiap bunga pasti sudah yakin dengan kelopak
Tak peduli akarnya dijerat hulu.
Kenangan, kasih, telah kupahat masa indah ini di lembaran hari-hariku, tercipta untuk abadi
Bintang, malam, langit tanpa bulan, sepi.
Tuhan,
Aku mohon dengan sangat
Dekap dia di sayap malaikat
Lindungi dia dari mimpi buruk
Jangan sampai sudut matanya basah
Aku mencintainya
Sungguh, dia adalah bulan.
Selamat jalan. Ada masa kita akan dipertemukan kembali.
(Ishak Iskandar Dg Pata_ Puisi Terakhir Untuk Bulan)