Sabtu, 23 September 2017

Rindu tanah kepada hujan.

Gelap, membuat kunang-kunang bersinar indah.
Seperti bait-bait doa tanah tadah hujan, rindu akan tetes demi tetes hujan jatuh.
Garis retakan-retatakan tanah setia menunggu pelukan hujan, yang menyatukan mereka.

Rumput-rumput kering yang pasrah kepada tanah.
Memberikan harapan baru pada tumbuh tunas muda.
Lihat bintang begitu dekat, begitu indah.
Aku terasa dekat diantara kesunyian malam yang damai.
Di bawah pohon bambu Kodok bernyanyi, di tangkai pohon pinus jangkrik pun ikut bernyanyi.

Senyum indah nampak sesekali diantara guratan wajah tua nan ramah.
Pipi merah merona terpancar diantara senyum anak-anak gunung.

Ada bahasa yang tak aku mengerti, namun membuatku tersenyum bahagia.
Seperti mereka yang menikmati hari tua, masih bisa bahagia, setelah ditipu berulang kali janji pemilu.
Apa kah untuk setiap bahagia selalu perlu dijelaskan, seperti bertahun-tahun mencintai satu hati yang tak kunjung balas mencintaimu.

Malam semakin malam, dingin tak bisa lagi ku tahan,  daun telinga mulai mengecil, ungkapan menawan rasa sayang mu perlahan-lahan tak lagi terdengar, terbawa hempasan angin malam.
Menghangatkan hati yang lama beku dengan segelas kopi, diantara aroma tembakau bapak tani.
aku ingin cinta yang dulu bagai candu tak lagi ku rindu.

Desa Sicini- Malino- 24-09-2017