Selasa, 01 September 2015

jajar legowo



I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk Indonesia. Usahatani padi menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi sekitar 21 juta rumah tangga pertanian. Selain itu, beras juga merupakan komoditas politik yang sangat strategis, sehingga produksi beras dalam negeri menjadi tolok ukur ketersediaan pangan bagi penduduk Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika campur tangan pemerintah Indonesia sangat besar dalam upaya peningkatan produksi dan stabilitas harga beras. Kecukupan pangan (terutama beras) dengan harga yang terjangkau telah menjadi tujuan utama kebijakan pembangunan pertanian. Kekurangan pangan bisa menyebabkan kerawanan ekonomi, sosial, dan politik yang dapat menggoyahkan stabilitas nasional. Dilain pihak terjadi penurunan lahan sawah akibat alih fungsi untuk kepentingan non pertanian, dan produksi sawah irigasi cenderung menurun.
            Rendahnya produktivitas pertanian disebabkan oleh kurangnya ketersediaan teknologi spesifik lokasi dan tingkat adopsi teknologi anjuran yang masih relative rendah. Penerapan teknologi di tingkat petani umumnya dari tahun ke tahun tidak berbeda, sehingga banyak komponen teknologi budidaya padi sawah yang perlu diperbaiki antara lain, penggunaan benih bermutu rendah dan umumnya bersumber dari hasil panen berulang-ulang dan bukan berasal dari varietas unggul, pemupukan yang belum rasional, rekomendasi yang ada tidak diterapkan, pada kemampuan tanah menyediakan hara, terabaikannya penggunaan pupuk organik,  penanganan panen dan pascapanen yang tidak tepat, serta sistem tanam yang kurang beraturan. Sehingga menyebabkan tingginya kehilangan hasil dan rendahnya mutu beras yang dihasilkan.
            Kabupaten Gowa yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan daerah otonom secara administrasi memiliki 18 kecamatan dan mempunyai iklim yang sangat beragam. Beberapa bagian wilayahnya merupakan lahan kering iklim basah dan bagian yang lain merupakan lahan kering iklim kering, selain itu sebagai daerah penyangga kota Makassar yang merupakan ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, juga dengan banyaknya daerah-daerah kabupaten lain yang berbatasan secara administratif menjadikan daerah ini sangat potensial dalam pengembangan dan peningkatan sektor perekonomian berbasis pertanian.
            Luas wilayah kabupaten Gowa adalah 1.883,33 km2 yang terdiri dari persawahan 32.174 ha, tegalan/kebun 19.695 ha, hutan rakyat 63.535 ha, ladang 11.089 ha, pemukiman 10.370 ha dan lainnya 149.824 ha. Jumlah penduduk mencapai 594.423 Jiwa, dengan laju pertumbuhan 1,43 %, sedangkan penduduk usia produktif mencapai 63,18 % (Anonim, 2012).
            Tidak menutupi kemungkinan jumlah pertumbuhan penduduk di Kabupaten Gowa, dari tahun ke tahun akan mengalami peningkatan, hal ini akan berdampak pada ahli fungsi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman atau industri yang dapat menyebapkan penurunan pendapatan produksi pertanian.
            Keberhasilan suatu daerah pembangunan dipedesaan dapat dilihat dari tingkat pendapatan petani, tingkat adopsi teknologi serta keterlibatan petani dalam proses pembangunan pertanian apakah meningkat, tanpa teknologi inovasi dan peran aparat dilapangan yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan sistem administrasi dan kinerja aparatur atau unsur pelaksana tugas lapangan.
             Untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani serta menciptakan sistem usahatani padi yang berkelanjutan demi mencukupi kebutuhan konsumsi dalam suatu masyarakat, perlu penataan kembali sistem penanaman padi sawah yang ada selama ini, dengan mengikuti adopsi inofasi teknologi, yang mampu meningkatkan usahatani yang telah direkomendasikan dari Dinas Pertanian. Badan Pengembangan dan Penelitian telah banyak mengeluarkan rekomendasi untuk diaplikasikan oleh petani. Salah satu rekomendasi ini adalah, penerapan sistem tanam yang benar dan baik melalui pengaturan jarak tanam yang dikenal dengan sistem tanam jajar legowo.
Berdasarkan  uraian dari latar belakang yang telah dipaparkan, maka penulis termotivasi untuk melakukan  penelitian  dengan judul Penerapan  Sistem Tanam Jajar Legowo Terhadap Peningkatan Produksi Tanaman Padi Sawah Di Desa Bungaejaya Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa.




1.2  Rumusan Masalah
            Berdasarkan pada uraian latar belakang yang telah dikemukakan, yang  menjadi  permasalahan penelitian yaitu:
1.      Apakah penerapan sistem tanam jajar legowo, dapat meningkatkan produksi tanaman padi sawah di Desa Bungaejaya Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa?
2.      Apakah ada perbedaan produksi dan pendapatan petani yang menggunakan sistem tanam jajar legowo dengan sistem tanam non jajar legowo di Desa Bungaejaya Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa?

1.3  Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
            Tujuan dari penelitian ini adalah.
1.      Menganalisis apakah sistem tanam jajar legowo mampu meningkatkan produkuksi tanaman padi sawah di Desa Bungaejaya Kecamatan Pallangga kabupaten Gowa.
2.      Menganalisis perbedaan pendapatan petani berdasarkan sistem tanam jajar legowo dengan sistem tanam non jajar legowo yang sebelumnya pernah dilakukan petani padi sawah di Desa Bungaejaya Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa.
                         

            Kegunaan dari penelitian.
            Kegunaan yang diharapkan dari hasil penelitian yang penulis lakukan   adalah        sebagai berikut:
1.      Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumber informasi bagi penulisan  penelitian.
2.      Diharapkan penelitian ini bisa membangun silaturahmi yang baik antara peneliti dan petani padi di Desa Bungaejaya Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar