Apa yang dihasilkan dari keputusan indonesia ikut MEA (masyarakat ekonomi asean).
Alih-alih persaingan ekonomi, jujur saja bukan persaingan yang tak mampu kami lakukan. Tapi modal.
Bukankah kopi vietnam dengan variasi harga 10K sampai berapa K lebih mudah masuk di mal, dari pada kopi buatan nenek kami yang standar dari harga 5000 sampai 7000 ribu.
Kalau soal persaingan rasa mari kita buktikan lalapan pakde bu'de kami lebih enak dari pada kentucky, tapi mengapa mereka lebih memilih berjualan dibahu jalan?
mereka memilih bahu jalan dengan alasan sewa tempat haya 700 ribu perbulan sedangkan sewa di mal dari 3juta sampai 10 juta perbulan.
Kita kadang dipaksa membuat sesuatu yang kreatif hingga menghasilkan nilai jual,
tapi lihat karena tak mampu membeli brand,(merek dagang) hasil karya kami tak terjual.
Ditambah lagi pasar rakyat makin sepi akibat menjamurnya keluarga pemilik-pemilik saham yang mulai masuk dipedesaan.
Mulai dari daging sapi, bawang merah, beras, bahkan yang paling parahnya garam pun ikut di impor dari negeri asing.
Apakah laut indonesia sudah tak asin lagi.
Kalau sudah tak asin lagi biarlah keringat kami yang mengasinkan.
Atas jerih payah dari usaha kami yang kian hari harus terasingkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar